Tampilkan postingan dengan label share. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label share. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Mei 2008

Idealnya Seorang Pemimpin

Seabad, ..!! Perjalanan Kebangkitan Nasional bukanlah waktu yang singkat.

Semangat dan nilai murni yang dicita - citakan 100 thn yang lalu, belum juga sepenuhnya mencapaì harapan masyarakat.

Perbedaan pendapat yang berujung saling hujat, menjadi agenda harian orang kuat.

Rakyat hanya dapat melihat,. Dan akhirnya pada sekarat.

Negara yang kuat,. Semoga bisa kita dapat, jika para pemimpinnya senyawa dan selalu dekat dengan rakyat.

Pemimpin yang bukan hanya dekat dengan 'konglomerat', namun juga harus dekat dengan 'wongmelarat'.

Pemimpin yang selalu mengutamakan dan mendahulukan kepentingan rakyat.

Pemimpin yang selalu memperlakukan orang lain (rakyat), seperti memperlakukan dirinya sendiri..

Menegakkan keadilan, perangi teror, hilangkan kemungkaran, kekufuran, kekacauan, dan fitnah.

Pemimpin yang dapat diterima (acceptable) mencintai dan dicintai seluruh umat.

Tidak otoriter, tidak arogan, tidak aji mumpung, tidak sewenang-wenang, dan juga tidak fanatik atas suatu golongan.

Pemimpin yang selalu komitmen pada agama dengan kuat.

"Lebih baik pemimpin tukang shalat,. Sedangkan rakyatnya maksiat. Daripada rakyatnya gemar shalat,. tapi pemimpinnya ahli maksiat dan hajat."

Pemimpin yang sehat, kuat, dan memiliki sifat-sifat utama Rasul,.
*.Sidik-->benar.
*.Amanah-->terpercaya.
*.Tabliq-->melaksanakan tugas, dan
*.Fatanah-->cerdas.

Sabtu, 17 Mei 2008

Seratus Tahun Kebangkitan Nasional

Cita-cita republik yang sebagaimana termaksud dalam Pembukaan UUD'45, menjadi sumbang ditelinga.

Tampaknya semangat nasionalisme hanya muncul manakala ada sentilan dari negara lain.

Mengapa,... ??
Karena kita memandang cita-cita republik sebagai kebenaran yang mitis (deretan yg benar 'pada dirinya sendiri').

Marilah kita evaluasi perjalanan sejarah..
Pergantian rezim pemerintahan tak berefek langsung secara positif pada kehidupan masyarakat.

Juga tidak memberi perubahan, terutama dari sisi pendidikan. Bidang yang justru dari awal pergerakan nasional menjadi biang perubahan.

Republik ini dibangun dengan fundamental ekonomi yang seakan kuat, politik yang seakan stabil, pemerintahan yang seakan bersih, politikus yang seakan negarawan dan berpihak pada rakyat, pengusaha yang seakan captains of industry, dsb.

Ibarat penyakit, gejala 'seakan' merupakan penyakit tanpa biang keladi, karena racun dan darah telah menyatu.

Secara psikologis, inilah yang oleh Erich Form disebut sebagai The Pathology Of Normalcy, penyakit yang tak disadari lagi sebagai suatu penyakit karena sudah menjadi bagian diri yang wajar.

Kehidupan rakyat diselimuti oleh aura kemuraman, tiada harapan, dan beratnya beban yang harus dipikul.

Seluruh persoalan yang kini sedang kita hadapi tak lagi bisa digantungkan pada negara.

Kepercayaan yang berlebih atau harapan yang menjulang pada negara, akan dapat menjebak dan memunculkan rasa frustasi yang tak berkesudahan.

Marilah kita,. 'bersatu-padu' untuk menyatukan sikap dan langkah, guna merumuskan suatu pola dan tata nilai yang berguna bagi rakyat dan negeri ini..

Keluarga Cemara..

Halo.. Guys